Babad Tanah Leluhur (Banyumas dan sekitarnya)

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_veerpont_over_de_Tadjoem_rivier_bij_Pantjassan_te_Adjibarang._TMnr_60004355Negeri Galuh Pakuan sedang dilanda cobaan berat. Musim kemarau yang berkepanjangan menimbulkan kesengsaraan rakyat. Wabah penyakit dan tindak kriminal meningkat. Sementara punggawa dan hulu balang belum mampu menghadapinya. Arya Munding Wilis yang menjadi Adipati kala itu memang sedang diuji. Belum selesai mengatasi kesulitan yang satu timbul masalah yang lain. dalam kesedihan menghadapi negeri yang sedang terancam itu, isterinya yang sedang hamil menginginkan daging kijang berwarna putih. demi cintanya kepada Sang Isteri, berangkatlah Sang Adipati Munding Wilis dengan Kuda Dawuk Ruyung kesayangannya. Hanya ditemani dua pengawalnya, berhari-hari Sang Adipati tak mengenal lelah dalam mencari buruannya itu. Namun sudah sampai sebulan belum juga nampak hasilnya.

Ketika mereka berburu kearah timur menyusuri Sungai Citandui sampailah Sang Adipati beserta dua pengawalnya di suatu grumbul. ternyata Adipati beserta dua pengawalnya itu sampai di sebuah perkampungan para brandal yang sering mengacau di seluruh kadipatennya. di Grumbul Gunung Mruyung tersebut sang adipati terpojok dan dirampok oleh dedengkot grumbul itu yaitu Abulawang. seluruh bawaan bahkan kuda sang Adipati dirampas dan sang dedengkot mengancam akan merampok dan menghancurkan kadipatennya. Adipati yang sedang kecewa karena tidak mendapat buruannya pulang dengan kesedihan yang lebi mendalam ke kadipatennya.

Peta Kecamatan Ajibarang

Sampainya di kadipaten, kesedihan sang Adipati terobati karena putera yang ditungu tungu sudah lahir kedunia. Semakin gembiralah ia setelah ditunjukkan adanya tanda hitam di lengan kiri bayi itu, yang konon merupakan “toh wisnu”. Artinya bayi ini kelak akan menjadi seorang yang besar yang berbudi luhur dan bijaksana.

Ternyata kegembiraan di Kadipaten itu tak berlangsung lana. Pada malam keempat kelahiran sang jabang bayi. Perampok gerombolan dari gunung mruyung dedengkot abulawang bener bener datang dan menghancurkan Kadipaten. Prajurit dan pengawal tidak bisa melawan gerombolan tersebut. Semua barang dirampok dan Kadipaten dibakar.

Untunglah sang Adipati dan Gusti putri selamat. namun nasib bayi yang ditunggui oleh dua orang emban tidak demikian. bayi itu dibawa oleh salah seorang perampok ke Gunung Mruyung tempat markas mereka. Adipati dan gusti putri lemas, bahkan gusti putri pingsan.

Suatu Ketika, adipati Munding Wilis dan istrinya menyamar sebagai petani kecil, pergi meninggalkan Kadipaten. semula mereka bertekad ke gunung mruyung, tempat perkampungan para perampok pemberontak untuk mencari bayinya. Namun niatnya diurungkan karena terlalu bahaya, merekapun berjalan ke arah lain.

Bayi yang masih merah itu, sudah sampi di Gunung Mruyung. Bertahun tahun Bayi tersebut tumbuh menjadi pemuda gagah dan tampan, sifatnya baik berbeda dengan orang tua angkatnya yang perampok. pemuda itu dinamai Jaka Mruyung. Karena tidak senang dengan sikap dan tingkah laku orang tuanya makadia pergi meninggalkan Gunung Mruyung.

Jaka mRuyung pergi dengan Kuda Dawuk Ruyung,yang dimiliki orang tua angkatnya, kuda tersebut sebenarnya adalah kuda milik ayah kandungya adipati Wilis. Jaka Mruyung tiba disuatu kampung di kawasan “Dayeuhluhur” dan bertemu seorang kakek. Ternyata kakek tersebut bukan kakek sembarangan. Dia adalah Ki Meranggi, seorang bekas prajurit sakti Kerajaan Majapahit dan kini menjadi seorang MRanggi (pembuat rangka keris). Jaka mruyung mengabdi di rumah Ki Meranggi, dan selama pengabdiannya dia banyak mendapat pengalaman yaitu baca, tulis, membuat keris dan ilmu keprajuritan serta kedigdayaan. semua ilmu dikuasainya dalam empat tahun. Pada tahun ke enam, Jaka Mruyung seolah mendapat Ilham agar meneruskan perjalan ke Timur, dan disana dia menermukan pohon pakis aji dan kelak hutan pakis aji tersbut ditebangi dan dijadikan negeri. Jaka mruyung pun pamit dan berpesan pada Ki Meranggi agar pedukuhan ini sepeninggalnya kelak diberi nama Dukuh Penulisan karena ditempat inilah dia belajar menulis.

Continue reading

Nusa Kambangan Tempo Doeloe

Narapidana di Nusa Kambangan (tahun 1900-1926)
Narapidana di Nusa Kambangan (tahun 1900-1926)


Nusa Kambangan adalah nama sebuah pulau di Jawa Tengah yang lebih dikenal sebagai tempat terletaknya beberapa Lembaga Pemasyarakatan (LP) berkeamanan tinggi di Indonesia. Pulau ini masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Cilacap dan
tercatat dalam daftar pulau terluar Indonesia. Untuk mencapai pulau ini orang harus menyeberang dengan kapal feri dari pelabuhan khusus yang di kelola oleh Departemen Kehakiman R.I. yaitu dari elabuhan Sodong menyebrang ke Cilacap, Jawa Tengah selama kurang-lebih lima menit dan bersandar di Pelabuhan feri Wijayapura di Cilacap. Feri penyebrangan khusus ini juga di nakhodai dan di awaki oleh Petugas Pemasyarakatan (pegawai LP), bukan dari Departemen Perhubungan, khusus untuk kepentingan transportasi pemindahan narapidana dan juga melayani kebutuhan tranportasi pegawai LP itu sendiri beserta keluarganya.
Pulau Kambangan, yang berstatus sebagai cagar alam, selain sering digunakan untuk latihan militer, juga merupakan habitat bagi pohon-pohon langka, namun banyak yang telah ditebang secara liar. Saat ini yang tersisa kebanyakan adalah tumbuhan perdu, nipah, dan belukar. Kayu plahlar (Dipterocarpus litoralis) yang
hanya dapat ditemukan di pulau ini banyak dicuri karena setelah dikeringkan, mempunyai kualitas yang setara dengan kayu meranti dari Kalimantan.
Secara tradisional, penerus dinasti Kesultanan Mataram sering melakukan ritual di pulau ini dan menjadikannya sebagai “hutan ritual”. Di bagian barat pulau, di sebuah gua yang terletak di areal hutan bakau, ada semacam prasasti peninggalan zaman VOC. Di ujung timur, di atas bukit karang, berdiri mercu suar Cimiring dan benteng kecil peninggalan Portugis. Berbagai macam tumbuhan khas ritual budaya Jawa ditanam di sini. Nusa Kambangan tercatat sebagai pertahanan terakhir dari tumbuhan wijayakusuma yang sejati. Dari sinilah nama pulau ini berasal: Nusa Kembangan, yang berarti “pulau bunga-bungaan”. Berikut Foto Tempoe doeloe dari Pasar Tjilatjap di tahun 1900,

Foto Luhkito Hadisoemarto.
(Diambil dari postingan Grup FB CIPES- Luhkito Hadisumarto -23-11-14)

Perlukah Membeli Gadget Baru ..?

gadget_bnrFenomena kemajuan teknologi informasi punya dampak yang cukup kuat terhadap kehidupan sosial dan peradaban manusia pada umumnya.  Teknologi berlari begitu cepat ,  dan manusia- manusia  yang terlelap dalam peradaban lama , pastilah akan terasa aneh dan lucu. Bayangkan jika seseorang masih mengingat dalam kepalanya , bahwa untuk menghubungi teman atau kerabatnya dia masih harus ke “Wartel” – nah , wartelnya aja udah susah di cari… Apa gak repot . Terus di tanya akun facebook nya apa ..? masih bingung facebook tuh makanan apa..?

Yah saya yakin di era informasi sekarang ini , hampir tidak ada manusia seperti diatas .  Dan resiko manusia – manusia yang hidup di era digital sekarang ini, mereka di tuntut untuk cerdas. Alasanya apa…? Karena jika kita tidak cerdas tentunya jadi sasaran empuk para produsen gadget . Dimana mereka jor- joran untuk membuat iklan tentang gadget yang mereka jual.  Dan jika kita tidak  cerdas membaca (mencermati) spesifikasi gadget2 yang mereka tawarkan , yah bisa jadi kita cuman jadi objek pasar mereka saja. Hanya sekedar demi gengsi , gaya- gayaan, atau biar di bilang update, anti gaptek , dan canggih . hmmmmm

Lalu , kapan seh kita mesti ganti atau tambah gadget baru ?  Dan hal- hal apa saja yang mmesti kita perhatikan saat mau beli / ganti gadget baru ???
Ikuti terus ulasanya di https://cimanggu.wordpress.com

Terapi Ikan Alami di Cibubuay Kec. Cimanggu

fish_therapy21Terapi Ikan , mungkin sudah tidak asing lagi kita mendengarnya. Lalu apa yang aneh dengan terapi ikan di Utara kali “Genteng” Cimanggu ini ? Di desa Cibubuay persis lokasinya kita bisa temui orang- orang yang berdiri di atas kali yang dangkal untuk menikmati terapi ikan alami. Berapa biaya untuk sekali terapi ? – sampai saat tulisan ini di buat jawabanya adalah “GRATIS” . Para sadulur tinggal datang ke TKP , kalo yang dateng pake motor yah , paling bayar parkir motor nya saja , dan segera nyemplung ke kali , di jamin di sana sudah banyak yang berbaur untuk bersama- sama menikmati gigitan – gigitan ikan kecil di kali tersebut.

1380771_218454368327788_1987669837_n1381659_746500902042057_114129010_n

Menurut cerita dari beberapa sumber kejadian ini di awali sekitar tanggal 17 Oktober 2013 kalo gak salah hari jum’at ,  ada beberapa anak kecil yang melewati kali tersebut dan melihat banyak sekali ikan- ikan kecil . Kemudian mereka mandi di kali “mamandian” basa urang cimangguan mah  , dan kontan ikan- ikan tersebut mengeremuni dengan gigitan- gigitan kecil nya.  Mengalami hal yang sedikit aneh , mereka bercerita ke orang tuanya masing- masing .  Terus orang tua mereka kembali ke kali untuk berusaha menangkap ikan- ikan kecil tersebut , dari dengan cara di jaring sampai dengan di portas (racun) , namun tetap saja tidak ada ikan yang tertangkap.  Dan seterusnya cerita ini bergulir dari mulut kemulut dengan bumbu yang bervariasi sehingga tidak sedikit orang Cimangguan yang mengkaitkan nya dengan dunia mistik . Ada beberapa versi cerita yang berbau mistis tersebut namun kami tidak menampilkannya sesuai pesanan si nara sumber , guna menghindari hal- hal yang berbau syirik secara berlebihan.

Pada kenyataannya saat ini setiap hari orang- orang berduyun- duyun datang ke kali tersebut untuk menikmati terapi ikan tersebut. Dan tentu saja penduduk sekitar mendapatkan berkah dari ramainya pengunjung terapi ikan dari tukang parkir , penjual makanan hingga kotak amal masjid yang meningkat drastis income nya.

Sampai saat tulisan ini di buat , belum ada informasi yang jelas tentang jenis ikan yang ada di kali tersebut.
Lalu apa saja seh manfaat dari terapi ikan ini ?

Manfaatnya antara lain  :

  1. menghaluskan kulit (untuk kecantikan kulit), kulit mati diangkat  dan dimakan oleh ikan kemudian kulit baru timbul sehingga menjadikan kulit halus. ikan garra rufa tidak bergigi sehingga tidak akan melukai kulit.
  2. merangsang syaraf-syaraf yang hampir mati sehingga sensitifity  kembali meningkat. (beberapa penyakit timbul karena urat syaraf  kita mati, yang terdapat di simpul-simpul kaki). kita tahu bahwa beribu-ribu simpul syaraf terdapat di kaki yang akan menghubungkan ke organ tubuh kita , rangsangan syaraf  dapat menyembuhkan beberapa penyakit
  3. melancarkan peredaran darah
  4. menghilangkan stress
  5. menghilangkan kulit pecah-pecah
  6. menghilangkan dan mencegah penyakit kulit
  7. menghilangkan pegal-pegal
  8. mengurangi tumpukan lemak
  9. mencegah tumbuhnya cell liar.
  10. Rekreasi murah tentunya 🙂

Demikian berita dari seputaran Cimanggu yang bisa kami wartakan di sini untuk lebih jelas lagi , silahkan datang saja ke lokasi  sekalian sambil jalan- jalan. Terima kasih sudah ikut menyimak tulisan di Cimanggu wordpress. Salam Cimangguan. 🙂

Tulisan ini di buat berdasarkan cerita dari seorang warga Cimanggu (Anton- Kuat )

Hati-hati Membuat Status dan Komentar

cyber-crime

Pidana Penjara dan Denda terkait Pasal Pencemaran Nama Baik dalam UU ITE Keberlakuan dan tafsir atas Pasal 27 ayat (3) UU ITE tidak dapat dipisahkan dari norma hukum pokok dalam Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP.

Demikian salah satu pertimbangan Mahkamah Konstitusi dalam putusan perkara No. 50/PUU-VI/2008 atas judicial review pasal 27 ayat (3) UU ITE terhadap UUD 1945. Mahkamah Konstitusi menyimpulkan bahwa nama baik dan kehormatan seseorang patut dilindungi oleh hukum yang berlaku, sehingga Pasal 27 ayat (3) UU ITE tidak melanggar nilai-nilai demokrasi, hak azasi manusia, dan prinsip-prinsip negara hukum. Pasal 27 ayat (3) UU ITE adalah Konstitusional.

Bila dicermati isi Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (1) UU ITE tampak sederhana bila dibandingkan dengan pasal-pasal penghinaan dalam KUHP yang lebih rinci. Oleh karena itu, penafsiran Pasal 27 ayat (3) UU ITE harus merujuk pada pasal-pasal penghinaan dalam KUHP. Misalnya, dalam UU ITE tidak terdapat pengertian tentang pencemaran nama baik.

Dengan merujuk Pasal 310 ayat (1) KUHP, pencemaran nama baik diartikan sebagai perbuatan menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum.

Pasal 27 ayat (3) UU ITE “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik” Pasal 310 ayat (1) KUHP Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Rumusan Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (1) UU ITE yang tampak sederhana berbanding terbalik dengan sanksi pidana dan denda yang lebih berat dibandingkan dengan sanksi pidana dan denda dalam pasal-pasal penghinaan KUHP.

Misalnya, seseorang yang terbukti dengan sengaja menyebarluaskan informasi elektronik yang bermuatan pencemaran nama baik seperti yang dimaksudkan dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE akan dijerat dengan Pasal 45 Ayat (1) UU ITE, sanksi pidana penjara maksimum 6 tahun dan/atau denda maksimum 1 milyar rupiah.

Pasal 45 UU ITE (1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Masih ada pasal lain dalam UU ITE yang terkait dengan pencemaran nama baik dan memiliki sanksi pidana dan denda yang lebih berat lagi, perhatikan pasal 36 UU ITE.

Pasal 36 UU ITE “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 27 sampai Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain”.

Misalnya, seseorang yang menyebarluaskan informasi elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dan mengakibatkan kerugian bagi orang lain akan dikenakan sanksi pidana penjara maksimum 12 tahun dan/atau denda maksimum 12 milyar rupiah (dinyatakan dalam Pasal 51 ayat 2) Pasal 51 ayat (2) UU ITE Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).

Diposkan oleh Dr. Ronny, M.Kom, M.H (Alias ‘Ronny Wuisan’) di 22.17